Rabu, 19 Januari 2011

Fisioterapi Indonesia Ala Kadarnya

JAKARTA - Fisioterapi (terapi fisik) selama ini dikenal sebagai unsur tak terpisahkan dalam bidang olahraga. Sayangnya, di Indonesia unsur ini seakan tidak terlalu diperhatikan secara serius. "Fisioterapi di Indonesia ini ala kadarnya, " ujar Wakil Presiden Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Indra Kartasasmita, yang ditemui Republika di sela-sela seminar Fisioterapi dan Nutrisi Olahraga di Kedutaan Besar Australia. Jumat (21/5). Terkesan seadanya, kata Indra, dikarenakan tidak adanya institusi yang secara khusus membidangi fisioterapi.
"Sebenarnya para tenaga fisioterapi di Indonesia cukup profesional karena banyak ahli asal Indonesia yang telah memperoleh ilmu fisioterapi dari luar negeri," katanya. Tapi, keberadaan sumber daya manusia yang berkualitas tersebut tidak diimbangi dengan peralatan yang memadai.
KOI, kata Indra, dalam waktu dekat berencana untuk mengirimkan para fisio-terapis Indonesia untuk belajar ke Australia. "Tujuannya tidak semata-mata mendapatkan bekal berupa kemampuan, akan tetapi juga supaya mereka bisa membandingkan alat-alat yang mereka miliki dengan alat-alat yang dimiliki di Australia," katanya.
Ke depannya, KOI berencana membuat sebuah institusi fisioterapi nasional. Sehingga, jika terdapat atlet-atlet timnas yang cedera bisa menjalani rehabilitasi di tempat tersebut untuk memulihkan kondisinya. "Selama ini fisioterapi di Indonesia diasosiasikan dengan tukang pijat atau tukang urut. Seharusnya tidak seperti itu. Kita harus memiliki sebuah sports science center untuk menampung para fisioterapi tersebut," tutur Indra. Mengenai kapan ide tersebut direalisasikan. Indra menyatakan akan membahasnya terlebih dahulu dengan jajaran KOI. Jika disetujui, maka KOI akan segera
Indra Kartasasmita
Wakil Presiden Komite Olimpiade Indonesi (KOI)mengirimkan para fisiote-rapis tersebut. Menurut Indra, penurunan prestasi olahraga nasional akhir-akhir ini salah satunya diakibatkan ketertinggalan di bidang ilmu fisioterapi. "Masih untung kita masih berprestasi di bidang angkat besi dan bulu tangkis. Tapi jika ingin ma-ju, kita tidak bisa terus-menerus seperti ini," kata Indra.
Ahli fisioterapi asal Australia, Michael Wood, mengatakan, belum berkembangnya dunia fisioterapi di Indonesia hanya disebabkan oleh belum adanya kesempatan yang dimiliki. Menurut fisioterapis yang pernah bekerja di klub sepak bola Australia, Perth Glory, itu Indonesia perlu memiliki sebuah institusi fisioterapi yang memiliki manajemen yang baik.
"Saat ini perkembangan fisioterapi di dunia sangat pesat dan menantang. Hampir semua klub olahraga profesional memiliki fisioterapi sendiri. Indonesia harus meningkatkan kualitas para fisioterapinya jika tidak ingin tertinggal," kata Wood. KOI kemarin dianugerahi Allan Taylor Sports Award 2010 oleh Kedutaan Besar Australia. Selain itu, KOI juga mendapatkan hibah sebesar 10 ribu dolar Australia. lem

0 komentar:

Posting Komentar